Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Reza 'Ismati dalam pelajaran akhlak bagi para santri di Madrasah Ilmiyah Musa bin Ja'far (as) dengan merujuk pada pentingnya mengenali identitas sebagai seorang santri, beliau menyatakan: "Sebelum menjelaskan adab dan tugas yang harus dipatuhi oleh seorang santri, dalam sumber-sumber agama terdapat banyak ayat dan riwayat tentang keutamaan ilmu yang merujuk pada mereka dapat menjelaskan kedudukan sejati seorang santri."
Beliau menambahkan: "Jika seseorang mengenali identitas dirinya, maka perilakunya pun akan benar; namun jika pengenalan ini tidak tercapai, ia akan mengalami semacam krisis identitas. Untuk menjelaskan masalah ini, dua riwayat dari Imam Shadiq (as) dapat dijadikan rujukan."
Ustadz ini melanjutkan: "Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada hari kiamat, pertama-tama seorang ahli ibadah didatangkan untuk dihisab, dan setelah pemeriksaan amalnya, ia diperintahkan untuk masuk surga. Tetapi ketika seorang alim (orang berilmu) didatangkan, setelah penghisabannya selesai, ada seruan khusus yang ditujukan kepadanya. Imam Shadiq (as) bersabda, kepada alim tersebut dikatakan: 'Wahai orang yang telah mengasuh anak-anak yatim dari keluarga Muhammad (as), berdirilah dan berikanlah syafaat.'"
Beliau menjelaskan: "Yang dimaksud dengan 'anak-anak yatim dari keluarga Muhammad (as)' adalah mereka yang tidak memiliki akses kepada Imam Maksum dan membutuhkan petunjuk serta bimbingan. Jika seorang alim mampu menyelamatkan mereka dari kegelapan kebodohan dan kesesatan, serta tidak membiarkan setan menguasai mereka, maka di hari kiamat ia akan memiliki kedudukan yang istimewa."
Hujjatul Islam wal Muslimin 'Ismati menambahkan: "Berdasarkan riwayat ini, seorang alim di hari kiamat dapat memberikan syafaat kepada murid-muridnya, bahkan syafaat ini berlanjut hingga beberapa tingkatan murid ke bawah. Ini menunjukkan bahwa misi ilmiah di hawzah-hawzah ilmiyah memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan abadi."
Identitas Santri; Menjaga Perbatasan Iman Masyarakat
Beliau selanjutnya, dengan merujuk pada riwayat lain dari Imam Shadiq (as), bersabda: "Dalam riwayat ini, para alim diperkenalkan sebagai 'penjaga perbatasan'; yaitu orang-orang yang menjaga benteng-benteng keyakinan agar setan dan godaannya tidak menguasai para syiah."
Hujjatul Islam wal Muslimin ini menyatakan: "Ketika identitas seperti ini didefinisikan bagi seorang santri, maka tugasnya menjadi jelas. Seorang santri pada hakikatnya adalah prajurit Imam Zaman (semoga Allah menyegerakan kemunculannya), dan ia harus menciptakan kelayakan untuk menjadi prajurut tersebut dalam dirinya."
Beliau dengan merujuk pada pengalaman lebih dari lima puluh tahun berada di hawzah ilmiyah mengatakan: "Pengalaman menunjukkan bahwa setiap santri yang tidak menganggap serius tugas keprajuritannya, cepat atau lambat akan menjauh dari jalan hawzah. Oleh karena itu, para santri harus berhati-hati agar tidak menyimpang dari jalan misi ilmiah dan spiritual mereka."
Ilmu; Senjata Utama Santri di Medan Pengabdian
Hujjatul Islam wal Muslimin 'Ismati dengan menekankan pada pentingnya keseriusan dalam menuntut ilmu-ilmu kehawzahan menyatakan: "Jika seorang prajurit memasuki medan tanpa senjata, ia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Senjata seorang santri adalah ilmu, dan tanpa ilmu ia tidak dapat melaksanakan misinya."
Beliau menambahkan: "Salah satu akar utama krisis identitas di kalangan santri adalah kelemahan dalam pencapaian ilmiah. Seorang santri yang telah beberapa tahun belajar di hawzah tetapi merasa tidak mempelajari apa pun, wajar jika ia ragu dan mengalami krisis identitas; tetapi seorang santri yang benar-benar menguasai apa yang telah ia pelajari, ia tidak akan pernah merasa seperti itu."
Ustadz ini, dengan merujuk pada pentingnya penguasaan teks-teks ilmiah, mengatakan: "Kriteria sejati pembelajaran bukan hanya mendapatkan nilai dalam ujian, tetapi harus mencapai tingkatan di mana seseorang mampu mengajarkan materi tersebut dan mengamalkannya dalam berbagai bidang ilmiah dan dakwah."
Beliau juga menunjuk pada beberapa rekomendasi ilmiah dari para tokoh hawzah dan bersabda: "Belajar sebelum pelajaran, ketelitian saat hadir di kelas, meninjau ulang materi setelah pelajaran, membaca secara luas seputar topik, dan diskusi ilmiah (mubahatsah) adalah faktor terpenting dalam memantapkan ilmu dalam pikiran seorang santri."
Hujjatul Islam wal Muslimin 'Ismati di bagian lain dari pidatonya, dengan merujuk pada pentingnya memanfaatkan masa muda, mengatakan: "Dalam sebuah riwayat dari Rasulullah SAWW yang ditujukan kepada Abu Dzar, disebutkan bahwa seseorang di hari kiamat akan ditanya tentang usianya, dan secara khusus pula akan ditanyai tentang masa mudanya. Ini menunjukkan bahwa masa muda adalah kesempatan terbaik untuk berusaha, menuntut ilmu, dan mengembangkan bakat."
Beliau menekankan: "Seorang santri harus memanfaatkan setiap momen dalam hidupnya dengan baik dan jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan-kesempatan ilmiah; karena menyia-nyiakan kesempatan akan membawa penyesalan dan kesedihan."
Hujjatul Islam wal Muslimin 'Ismati di akhir pidatonya mengucapkan terima kasih kepada para pengajar dan santri di Madrasah Ilmiyah Musa bin Ja'far (as), ia mendoakan kesuksesan bagi mereka di jalan menuntut ilmu-ilmu agama, dan memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memberikan kesuksesan kepada seluruh santri dalam jalan menjadi prajurit Imam Zaman (semoga Allah menyegerakan kemunculannya).
Komentar Anda